Rabu, 28 Januari 2009

Foto-Foto Pemandangan di Padang

FIL1303

Daun Padi setelah hujan

FIL2351

Pantai Padang – 16 Mei 2008

FIL13394

Bunga di Rumah

DSC_6796 [640x480]

Pemandangan Malam dari Jembatan Siti Nurbaya – Padang

DSC_6788 [640x480]

Pemandangan Malam dari Jembatan Siti Nurbaya – Padang2

air menetes [640x480]

Tetesan Air

DSC_6654 [640x480]

Berpayung ria

DSC_6691 [640x480]

Aku lagi dikurung…..

KATA-KATA BIJAK

“Yesus memberi lebih dari sekedar awal yang baru dalam hidup;Ia memberi kehidupan baru yang merupakan awal dari semuanya.”[1]

Karl Marx pernah berkata,”Para filsuf hanya berupaya menafsir dunia dengan cara yang berbeda, namun yang menjadi inti pergumulan mereka seharusnya adalah bagaimana mengubah dunia.”[2]

Yesus adalah satu-satunya pribadi yang telah memilih nama-Nya sendiri sebelum Ia dilahirkan.[3]

Ketika Reforman Jerman Martin Luther ditanyai atasannya, Von Staupitz, apa yang menurut Luther yang bisa menggantikan doa pada para orang suci, pemujaan dan ziarah ditempat-tempat suci, dan doa pada Bunda Maria, ia hanya menjawab dengan ringkas,”Kristus, yang orang butuhkan cuma Yesus Kristus”[4]

Tableau.AlphaAndOmega

[1] David Holdaway, Kehidupan Yesus (Semarang: Sinode GKMI, 2001) 11.

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid, 20.

[5] Ibid, 25-26.

BERKAT DI WARUNG TENDA BIRU

Hari ini udara begitu panas setelah pulang dari kerja seharian yang melelahkan ketika sampai dirumah sudah hampir petang. Tanpa sadar cuaca di atas kepala saya sedang berubah dengan cepat, panas terik telah berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan yang tebal. Selesai mandi dengan perut yang keroncongan saya keluar rumah menuju warung tenda biru langganan saya untuk cari makan…maklum perut ini tidak bisa diajak kompromi……

Pagilaran - JatengTiba di warung itu saya memesan nasi jagung kesukaan saya dan  segelas teh hangat. Ditengah-tengah keasyikan saya menikmati nasi jangung dan teh hangat, ada titik-titik air jatuh dari langit yang menimpa atap tenda biru itu. Saya terus saja menikmati makanan yang ada….namun titik-titik air itu makin lama makin banyak dan makin keras bunyi air jatuh yang menimpat atap tenda biru. Segera saja warung tenda biru telah digenangi air, banjir lagi…ya..., maklumlah Surabaya…kata saya dalam hati sambil menaikkan kaki saya supaya tidak terendam. Hujan belum juga berhenti, rasa maklum dihati mulai menjadi ketidaknyamanan, yang makin meningkat menjadi ketidakpuasan, gerutupun terucap……”Duh…hujan ini mengganggu kenikmatan saja, mana banjir lagi…basah deh sepatu ku…huh…sebel!!! Mana lama lagi, jadi batal deh rencana ngapelku! (dengan logat sumba yang kental)”

Dikala hati dongkol, sebel dan tidak puas, saya dikagetkan oleh sapaan lembut ibu pemilik warung tenda biru, seorang Ibu tua yang sederhana namun bersahaja…”Nak, mbok…yo matur suwun ambek gusti Allah, Gusti iku isih saying lho ambek awake dhewe sing ben-ben ngroso kepanasan…awek dhewe iki sing rewel…lek panas njaluk udan, wes udan, ngomel njaluk panas meneh…lek banjir iki lak gara-gara salahe awake dhewe sing buang larakan sembarangan, yo nang kali, yo nang got-got…lha iki akibate banjir…yo toh”, ujarnya sambil tersenyum… [1]

Setelah hujan mulai reda, tinggal rintik-rintik kecil, dengan perasaan tertegur dengan perkataan itu saya kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang…kata-kata yang sederhana dan bersahaja begitu membekas dalam hati dan pikiran saya…saya mencoba mengingat-ingat kata-kata ibu pemilik warung tenda biru tersebut…”Ya…Tuhan, Ibu itu lebih bisa memaknai hal-hal kecil yang terjadi dalam hidupnya dengan cara yang tepat”, gumanku. Ya…belajar mengucap syukur pada Tuhan walaupun mungkin hal-hal itu tidaklah menyenangkan dan mengganggu. Saya, seorang pemuda yang tahu teologi tapi saya tidak bisa memaknai dan menghidupi teologia itu, …hal itu membuat saya tertunduk dan malu pada Tuhan dan tanpa sadar dalam perjalanan pulang itu air mata saya jatuh….saya minta ampun kepada Tuhan atas sikap hati saya yang menggerutu, kata-kata dan tidak tahu berterima kasih untuk semua yang Tuhan beri.

Setelah tiba di rumah saya bersyukur pada Tuhan karena Tuhan memakai ibu pemilik warung tenda biru yang sederhana untuk tegur kebodohan saya…saya bersyukur di Warung Tenda Biru itu saya diingatkan kembali akan berkat Tuhan. Mari teman-teman, kita belajar memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di dalam hidup kita, pada sekitar kita yang mungkin selama ini terabaikan oleh kita…perhatikan semunya baik-baik, karena mungkin Tuhan sedang berbicara kepada kita, melalui peristiwa-peristiwa/orang-orang disekitar kita/pelayanan-pelayanan kita/tugas-tugas kita/proposal/skirpsi yang kita kerjakan. Selamat memaknai hidup ini bersama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin. W.H.A.D. 21.09.2004


[1] (Terjemahannya: Nak, ya kamu harusnya berterima kasih sama Tuhan, Tuhan itu masing sayang sama diri kita yang tiap-tiap kali merasa kepanasan…kita ini rewel, kalo panas minta hujan, sudah hujan ngomel minta panas lagi… kalo banjir ini kan gara-gara salahnya kita sendiri yang buang sampah sembarangan, ya di sungai, di selokan-selokan…lha ini akibatnya…bajir, ya kan)