Sabtu, 02 Juni 2012

Amy Dengi's photostream

after rainMirrorafter rain nightlittle butterflyruncloseup flower
yellow softdew at yellow flowerin balck and whitechairs in black and whitefixing up the KeyKampung Nias - Padang - West Sumatera in the night
focus on meme tooflies in the leafdewsunsettouch the sun sets
wildflowersdew on flower ros branchesDSC_0091Terang bulanKembangBelalang

hasil jepretan...semoga bisa menginspirasi anda.....salam

Jumat, 13 April 2012

Biografi - William Carey

CareyEngravingWilliam Carey dilahirkan 17 Agutus 1761. Bapaknya Edmund Carey dan Ibunya Elizabeth adalah orang miskin. Edmund Carey bekerja sebagai tukang tenun yang mempergunkan alat-alat yang sangat sederhana. Mereka tinggal di desa Northamptonshire Inggris. William Carey dilahirkan pada zaman pemerintahan George III, dalam suatu periode sejarah yang lasim disebut zaman keemasan. Di dalam negeri sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam kerohanian dan agama melalui kebangunan rohani oleh John Wesley.
Walaupun orang tua Carey sangat miskin, namun hidup Carey tidaklah menyedihkan. Orang tua Carey adalah orang yang takut akan Tuhan.[1] Beberapa bulan menjelang hari ulang tahunnya yang ke 18 Carey mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus Kristus. Carey adalah seorang tukang sepatu yang rajin pada mulanya ia belajar pada keluarga Clarke Nichols dan juga jadi pembantu seorang tukang sepatu lain bernama Thomas Old. Carey menikah dengan adik ipar dari Thomas Old bernama Dorothy Plackett. Namun pernikahannya tidaklah bahagia. Kehidupan Carey penuh dengan penderitaan dan kesukaran, setelah majikannya Old meninggal pada tahun 1783 dengan mewariskan berbagai macam kesulitan dalam perusahannya kepada Carey. Walaupun dalam kesulitan dengan setia Carey tetap melayani gereja-gereja di Earl Barton dan Pury End sebagai pendeta awam, meskipun gajinya hampir-hampir tidak mencukupi untuk biaya-biaya yang dikeluarkannya. Carey adalah seorang yang suka membaca buku dan mempelajari bahasa.
Dalam tahun-tahun yang penuh dengan penderitaan tersebut justru hati dan pikiran Carey mulai terbuka terhadap orang yang bukan Kristen, dan perintah Kristus untuk membawa kabar keselamatan kepada mereka.[2] Carey pemuda Inggris yang hidup pada akhir tahun 1780-an, pikiran Carey dipenuhi dengan keyakinan bahwa gereja harus membawa Firman Tuhan kepada setiap bangsa di dunia.
Ketika Carey sedang mempersiapkan pentahbisan sebagai seorang pendeta pada tahun 1785, ia ditolak setelah menyampaikan khotbah pertamanya sebagai seorang kandidat pendeta. Perlu lebih dari dua tahun baginya untuk kemudian ditahbiskan menjadi seorang pendeta. Program pelayanan Carey tidak dianggap penting sampai tahun 1792 ketika ia meluncurkan buku terpenting dalam sejarah gereja yaitu “An Enquiry Into the Obligations of Christ”. Dalam buku ini ia berpendapat bahwa “Amanat Agung” dalam Matius 28:19-20 bukan saja ditujukan kepada para rasul, tetapi untuk segala periode kehidupan manusia. Perkumpulan misi pertama didirikan tanggal 2 Oktober 1792 itu adalah yang oleh Dr. George Smith dilukiskan sebagai “Perkumpulan Misi Inggris tulen yang pertama, yang mengutus pendirinya sendiri”. Tanggal 2 Oktober 1792 umumnya dianggap sebagai hari lahirnya gerakan misi modern.
Ada tiga buku yang mempengaruhi pikiran-pikiran Carey, tentang pekabaran Injil di luar negeri. Yang pertama, Alkitab, yang dengan jelas mengajarkan bahwa gerejalah yang berkewajiban untuk memberitakan Injil kepada setiap orang diseluruh dunia; kedua, buku tentang riwayat hidup David Brainerd, yang menggambarkan betapa pekerjaan seorang utusan Injil yang memberikan seluruh hidupnya hanya untuk pekerjaan itu. Ketiga, buku tentang pelayaran kapten Cook, yang melukiskan keadaan dan kehidupan pada penduduk asli di kepulauan-kepulauan yang terletak di Laut Selatan. Baik secara rohani maupun jasmani, kehidupan mereka sangat menyedihkan, karena itu mereka sangat butuh Injil. Sejak saat itu, Carey selalu berdoa dengan tekun untuk orang bukan Kristen. Carey menunjukkan bahwa jika orang-orang Kristen ingin mempertegas dukungan dan janji terhadap PB, maka mereka harus juga menerima perintah yang diberikan didalamnya. Segera setelah penerbitan buku “An Enquiry Into the Obligations of Christ”, ia berkhotbah di mana ia memperingatkan pada pemimpin Kristen untuk “Mengharapkan hal-hal besar dari Tuhan; mengusahakan hal-hal besar dari Tuhan”.
Pada 13 Juni 1793 berangkat dengan kapal layar “Kron Princessa Maria” ke Calcutta, India dengan Carey dan keluarga berserta Dr. Thomas kemudian mereka tiba tanggal 11 Nopember 1793. Kesulitan yang dihadapi Carey pada awal pelayanannya adalah biaya hidup di kota Benggala sangat tinggi. Tantangan terbesar di ladang palayanan. Carey dan isterinya Dorothy kehilangan tiga orang anaknya mereka yang masih kecil. Di India kesehatan Dorothy semakin lama semakin merosot dan tidak dapat menghadapi tekanan hidup alam budaya India yang keras. Carey menghabiskan 7 tahun hidupnya di India sebelum melihat buah pertama dari penginjilannya.
Dalam buku hariannya tanggal 19 April 1794, Carey mencatat demikian :
“O, betapa mulianya jalan-jalan Allah itu! Jiwaku rindu dan mengharapkan akan Allah, akan Allah yang hidup, untuk melihat kemuliaanNya dan keindahanNya sebagaimana telah saya lihat di dalam tempat sunyi. Tatkala saya meninggalkan negeri Inggris, maka sangat besarlah pengharapan saya untuk menobatkan orang-orang bukan Kristen; tetapi di tengah-tengah rintangan-rintangan yang sekian banyaknnya itu, pastilah pengharapanku itu hilang lenyap, jikalau Allah tidak menegakkannya. Tak ada hal satupun yang menguatkannya tetapi banyak hal yang melemahkannya, karena kini satu tahun dan sembilan belas hari sudah lalu, sejak kami meninggalkan tugas kami yang kami sayangi di Leicester itu. Selama itu kami mondar-mandir kian kemari, selama lima bulan kami dipenjarakan di dalam kapal bersama dengan orang-orang yang bersifat keduniawian. Setelah itu haruslah kami mempelajari bahasa selama lima bulan lagi. Kami bekerja dengan seorang Moonshi yang tidak cukup cakap mengerti bahasa Inggris untuk menerjemahkan kotbah-kotbah kami. Kami hidup terpisah dengan teman sekerja kami. Ada penundaan-penundaan yang berlarut-larut tetapi kesempatan untuk berbakti bersama hampir tidak ada. Kami tidak dapat mengundurkan diri dalam hutan-hutan untuk berdoa seperti Brainerd, karena bahaya harimau. Kami tak punya barang-barang duniawi untuk bersandar atau kemewahan duniawi untuk dinikmati, kecuali makanan dan pakaian. Tetapi kami memiliki Allah, dan FirmanNya itu pasti. Meskipun tahayul orang bukan Kristen itu seribu kali lebih jahat dan kami ditinggalkan dan dianiaya oleh semuanya, namun harapan kami yang tertambat pada Firman yang pasti itu, akan bediri tegak mengatasi segala rintangan dan pasti akan menang atas segala pencobaan.”
Pada 10 Januari 1800, Carey tiba di Serampore. Carey mulai membangun suatu masyarakat misi dengan bekerja bersama dengan rekan-rekannya diantaranya Marshman dan William Ward. Mereka memulai membuka sekolah-sekolah berasrama pada bulan Mei 1800, mereka juga bersama mendirikan sebuah percetakan dengan maksud utama mencetak Alkitab dan surat-surat selebaran Injil, dan disamping itu juga untuk mencetak pesanan-pesanan dari pemerintah dan rakyat jelata. Mei 1801, Carey menjadi dosen bahasa Benggala pada Sekolah Tinggi Pemerintah Fort William, di Calcutta. Beberapa tahun kemudian diangkat menjadi guru besar sekolah yang sama. Semua pendapatan disetor pada kas Misi. Meskipun keadaan keuangan misi di Serampore sangat baik, namun Carey dan rekan-rekannya sangat hemat dalam pengerluaran-pengeluaran bagi rumah tangga dan dirinya sendiri.
Kesulitan-kesulitan lain yang dihadapi Carey dalam tahun-tahun pertama di Serampore terletak dalam hubungan misi dengan pemerintah. Selama tahun-tahun diantara 1800 dan 1813 ada tiga peristiwa yang membuat Kompeni membatasi kegiatan-kegiatan Carey dan teman-temannya. (1) tahun 1806, dengan alasan pemberontakan Vellore, yang memakan korban 113 orang opsir dan tentara Inggris yang terbunuh dalam satu garsniun Inggris. Pemberontakan itu menurut pemerintah adalah akibat-akibat tidak langsung dari usaha untuk menobatkan orang-orang Hindu. (2) tahun 1807, dengan alasan diterbitkannya suatu surat selebaran yang memuat kata-kata hinaan terhadap nabi Mohammad. Hal itu oleh pemerintah dianggap hasutan yang berbahaya. (3) tahun 1812, karena raja-raja India tertentu yang terkemuka seperti Dowlat Scindia dengan resmi mengajukan protes terhadap pekerjaan misi. Kemudian muncul masalah yang lebih besar yaitu barang siapa menjadi orang Kristen akan dibunuh, karena orang setempat menganggap bahwa Agama Kristen telah menghacurkan sistim kasta di India. Hal lain yaitu banyak praktek yang bertentangan dengan kehidupan Kristen seperti pengorbanan anak-anak kepada dewa dan pembakaran hidup-hidup para janda di atas tumpukan kayu bakar jenasah suami.
Kendala-kendala lain yaitu adanya perlawanan sipil dari perusahaan the British East India yang tidak ingin adanya para penginjil di India. Selain itu serangan penyakit malaria dan kolera silih berganti menyerang Carey, kondisi hidup yang memprihatinkan, terbatasnya dana bahkan untuk hidup secara sederhana.
Carey punya semangat yang tinggi khususnya dalam memberitakan Firman Tuhan dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa daerah. Tugas ini dianggapnya sebagai suatu syarat mutlak untuk pemberitaan Injil di India. Pada tahun 1797 ia sudah menyelesaikan terjemahan PB ke dalam bahasa Benggala dan menjelang tahun 1800 telah menerjemahkan PL, kecuali hanya dua buku. Carey juga menggunakan setiap kesempatan untuk belajar bahasa India yang lain dengan pertolongan murid-muridnya. Dalam tahun 1803 – 1806 ia sibuk dengan terjemahan PB dalam bahasa Hindi, Oriya, Sansekerta, Gujarati, Marathi, Telugu, Punjabi, Kanarese dan Kashmiri. Namun tanggal 11 Maret 1812 terjadi kebakaran di percetakannya yang memusnahkan naskah-naskah, buku-buku dan huruf cetak yang sangat berharga itu kerugian yang dideritanya sangat besar. Ketika kabar tersebut sampai ke Inggris, dalam waktu limapuluh hari telah terkumpul seluruh pengganti kerugian tersebut.
Semangat Carey untuk memberitakan Firman Tuhan sama besarnya dengan semangatnya untuk menterjemahkan Alkitab. Di Benggala Utara itu Carey mempergunakan tiap kesempatan untuk mengadakan perjalanan keliling ke desa-desa untuk memberitakan Injil. Di Serampore tahun 1800 ia memulai pekabaran Injil di tengah-tengah tempat yang terbuka. Selain berkotbah Carey juga menggunakan selebaran Injil yang sangat berfaedah bagi pekerjaan pekabaran Injil. Hal lain yang dilakukan adalah membagikan Alkitab sesuai dengan bahasa-bahasa yang daerah setempat. Pada 8 Agustus 1806, Carey dan teman-temannya menarik perhatian orang-orang Kristen bangsa Benggala kepada hal-hal yang berikut: (1) Bahwa maksud tujuan Juruselamat dalam memanggil mereka dari kegelapan masuk ke dalam terangNya yang ajaib itu, adalah supaya mereka itu bekerja dengan sekuat tenaga untuk memajukkan pekerjaan Tuhan di tengah-tengah masyarakat bangsa sendiri. (2) Oleh sebab itu baik secara perseorangan maupun bersama-sama mereka mempunyai tugas yang tidak dapat diabaikan, untuk berjuang dengan segala upaya untuk membimbing bangsa mereka sendiri kepada pengenalan akan Juruselamat. Dan jikalau kami orang asing merasa berkewajiban untuk datang dari negeri yang sangat jauh, untuk keperluan itu, maka mereka seharusnya lebih berkewajiwan lagi untuk bekerja untuk maksud yang sama itu.
Kebanyakan dari orang-orang Kristen baru, mempunyai keinginan yang besar untuk mengabarkan Injil. Tetapi berhubung dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan setiap hari, banyak diantara mereka tidak dapat memberikan waktu untuk pekerjaan Tuhan pada hari kerja. Tetapi pada tiap hari Minggu, hampir semua orang Kristen orang Benggala yang tergabung dalam gereja Baptis, ikut mengabarkan Injil di berbagai desa sekitar kota Serampore. Para pendeta misi di Serampore mengakui bahwa bertambahnya jumlah anggota gereja Serampore bukanlah hasil jerih payah mereka sendiri, melainkan hasil usaha orang-orang Kristen baru orang Benggala.
Hal lain yang lakukan Carey dan rekan-rekannya adalah mendorong supaya orang-orang Kristen bangsa India kiranya dapat membangun gerejanya sendiri diseluruh negeri itu. Carey dan teman-temannya memberikan tiga prinsip yang harus jadi dasar bagi gereja-gereja itu: (1) Gereja-gereja seperti itu harus dapat memerintah diri sendiri (2) Gereja-gereja seperti itu harus dapat berdikari. (3) Gereja-gereja itu harus dapat berkembang sendiri. Dengan rasa kasih sayang Carey memperhatikan segala keperluan rohani mereka yang hidup disekitarnya dan berkerja bersama dengan mereka. Ia juga menunjukkan minat yang besar dan tetap terhadap kesejahteraan phisik, intelek dan moril orang-orang India. Carey juga belajar cara-cara untuk memperbaiki pertanian di India. Carey punya minat yang besar dalam lapangan pertanian dan perkebunan. Tidak hanya itu Carey juga berjasa dalam hal sastra, berkat bantuan Ram Basu seorang Benggala yang berbakat, menyusun sebuah sejarah dari Pratapaditya, raja yang terakhir di pulau Sagar. Buku sejarah ini diterbitkan tahun 1801 dan dianggap sebagai buku prosa pertama yang dicetak dalam bahasa Benggala. Carey juga menyusun buku tata bahasa Benggala, untuk keperluan para mahasiswa. Dengan bantuan Marshman ia juga menerjemahkan Ramayana, syair pahlawan India dari bahasa Sansekerta kedalam bahasa Inggris, Carey juga menerbitkan buku tata bahasa Sansekerta yang dikarangnya sendiri. Carey memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kehidupan dan bahasa orang-orang India, serta menitikberatkan kepada pemeliharaan hubungan baik dengan orang-orang Hindu dan Islam.
Untuk apa semua ini? Carey membentuk satu tim yang terdiri dari rekan-rekan sekerjanya (terkenal dengan nama “Trio Serampore”) yang berhasil mengangkat mereka menjadi kelompok penginjil terpenting dalam sejarah Misi. Carey dan timnya telah menterjemahkan Alkitab dalam 34 bahasa di Asia, menyusun kamus-kamus berbahasa Sansekerta, Marathi, Punjabi, dan Telegu; memulai perjanjian “Serampore College”,[3] mendirikan gereja-gereja dan menetapkan 19 stasiun misi; membentuk seratus sekolah bagi anak-anak putri setempat; memulai masyarakat agraris di India dengan mendirikan the Horticultural Society of India; mempelopori publikasi mingguan “The Friend of India”, mencetak surat kabar India pertama, dan memperkenalkan konsep bank sebagai lembaga tabungan untuk membantu kaum petani yang miskin. Perjuangan melawan pembakaran pada janda (suttee) telah membantu keluarnya undang-undang pelarangan pada tahun 1829.
Menjelang akhir hidupnya ia sering dikunjugi beberapa dari para pendeta-pendeta misi dari berbagai aliran dan gereja salah satunya yang terkenal adalah Alexander Duff seorang pendeta misi dari Gereja Scotlandia berbicara untuk menetapkan hati Carey yang sedang berbaring ditempat tidur. Dalam kata-katanya antara lain ia mengingatkan Carey kembali pada buah hasil pekerjaan yang dicapai dengan gilang-gemilang. Carey menjawabnya sambil berbisik, katanya: “Mr. Duff, tuan telah berbicara tentang Dr. Carey, Dr. Carey; jikalau saya telah kembali pada Bapa, janganlah kiranya tuan berbicara lagi tentang Dr. Carey – berbicaralah tentang Juruselamat Dr. Carey”.
Pada batu nisannya tercatat kata-kata yang dipilih oleh Carey sendiri sebagai berikut :
WILLIAM CAREY
Lahir tanggal 17 Agustus 1761
Meninggal 19 Juni 1834
“A wretched, poor and helpess worm,
On Thy kind arms i fall.”
“Seekor cacing yang hina, miskin dan tak berdaya
ditangan Dikau yang penuh belaskasihan aku jatuh”

Komentar pribadi:
1. Ketika membaca biografi William Carey yang terbersit dalam hati dan pikiran saya adalah Carey adalah seorang yang hatinya penuh dengan belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang belum di selamatkan yang berada jauh diluar daerahnya bahkan sampai akhir hidupnya ia masih memikirkan tentang memberitakan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Hal itu didedikasikan dalam seluruh hidupnya dalam pelayanan misi di India. Carey adalah seorang yang rendah hati, tabah tidak gampang putus asa dan yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.
2. Bagi mereka yang hendak bermisi dan hamba-hamba Tuhan bahkan kaum awam saya sarankan untuk membaca biografi ini ada banyak pelajaran rohani yang didapat, mengetarkan dan memberikan semangat dan kasih akan jiwa-jiwa yang belum diselamatkan.
3. Pelayanan misi yang dilakukan oleh William Carey bagi saya merupakan pelayanan yang holistik yang mencakup banyak bidang, Carey tidak hanya memperhatikan hal-hal rohani tetapi juga aspek-aspek sosial kemasyarakatan hal itu terlihat dari pelayanan yang dilakukannya. Bukan hanya di dalam bindang agama, tetapi bidang pendidikan, HAM, bahasa dan satra, pertanian dan perkebunan, masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat, dia juga bergaul dengan semua lapisan masyarakat.
4. Keberhasilan pelayanannya tidak hanya bergantung pada kerjasama, kesehatian dan organisasi yang baik, tetapi lebih pada ketergantungan mutlak kepada Allah dan hati yang penuh belas kasihan serta tindakan nyata yang dilakukan dalam hidupnya, hidupnya dipersembahkan sepenuhnya bagi pelayanan misi sampai akhir hidupnya. Hal ini nyata dari kehidupan doa yang terus-menerus dipelihara oleh Carey bagi jiwa-jiwa yang belum diselamatkan, hal itu telah dimulai sejak ia berjumpa dengan Kristus secara pribadi. Hal ini menegur saya secara pribadi bagimana ketergantungan saya kepada Tuhan di seminari ini dan bagaimana kehidupan doa saya khususnya bagi mereka yang belum diselamatkan, hal ini mendorong semangat saya untuk kembali memiliki hati yang demikian.
5. Poin-poin dari perjanjian Serampore merupakan inti dan jiwa dari pelayanan misi yang dikembangkan oleh William Carey yang menjadi salah satu penentu keberhasilan pelayanan misinya.[4]
6. Harus disadari bahwa pelayanan misi bukanlah pelayanan yang mudah karena ada juga kendala-kendala yang harus dihadapi baik dalam keluarga, masalah keuangan, masalah sosial-budaya, geografi, penyakit, masalah-masalah bahasa, benturan-benturan budaya oleh karena itu butuh kerjasama dan dukungan dari saudara-saudara seiman serta gereja berjuang bersama-sama demi jiwa-jiwa yang belum diselamatkan.
7. Saya sangat setuju dengan apa yang dilakukan oleh Carey dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk memperlengkapi orang-orang daerah setempat, suku setempat untuk dididik menjadi hamba Tuhan, sehingga pelayanan kepada suku, daerah setempat lebih efektif.
8. Hal yang perlu dipelajari dari Carey adalah ia belajar untuk hidup sederhana, bahkan seluruh dana hasil usahanya dipersembahkan semuanya untuk kas misi, walaupun secara umum pelayanan misi yang dimiliki tidak kekurangan dana. Hal ini juga menjadi peringatan untuk setiap hamba Tuhan dan saya pribadi bahwa kita perlu hidup sederhana tetapi bukan melarat karena hal ini juga akan menjadi teladan bagi jemaat kita dan bagi keluarga dan anak-anak kita.
9. Penyerahan yang total kepada Allah merupakan kunci keberhasilan pelayanan misi William Carey di India. Hal ini juga menjadi peringatan dan teguran bagi saya apakah saya sudah menyerahkan secara total hidup saya untuk dipakai Allah seperti lagu Mars SAAT yang sering kali dinyanyikan “ku lepaskan semua ikut Yesus, luku di tangan maju terus, ribuan jiwa hanyut dalam dosa, bercahayalah kalam kudus, kuasa kasih membakar jiwa raga giat bersembada, korban hidup dimezbah ku persembah, mohon RohMu bersihkan rantingku agar berbuah slalu, masyurkan salib Kristus, muliakan Hu” inilah yang menjadi kerinduan dan doa saya.
Naskah tambahan dapat di temukan di:
http://en.wikipedia.org/wiki/William_Carey_(missionary)

[1]Walter Bruce Davis, Riwayat Hidup William Carey (Yakin: Surabaya, 1990) 1-4.
[2] dem, 6.
[3] Lihat lampiran perjanjian Serampore yang menjadi salah satu keberhasilan dari pelayanan Carey dan kawan-kawan di India.
[4] Lihat lampiran perjanjian Serampore yang menjadi salah satu keberhasilan dari pelayanan Carey dan kawan-kawan di India.

Kamis, 22 Maret 2012

ANUGERAH YANG MAHAL


ANUGERAH YANG MAHAL
1 Petrus 1:18-19

Seorang teolog Jerman Dietrich Bonhoeffer berkata: ”Grace is free but not cheap” yaitu anugerah Allah yang kita terima adalah anugerah yang diberikan cuma-cuma / gratis tetapi anugerah itu bukanlah anugerah yang murahan. Banyak orang Kristen hanya "take it for granted", menerima anugerah-Nya saja tapi tidak merespon sama sekali terhadap Sang Pemberi anugerah tersebut.

Anugerah merupakan pemberian dari Allah secara cuma-cuma tetapi bukanlah murahan. Ketika kita mengerti bagaimana ngerinya dosa dan akibat dosa...dan ketidaklayakan kita menerima anugerah barulah kita dapat menghargai betapa besarnya, mulia dan mahalnya anugerah keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita.

Sebagai orang percaya kita tentu bersukacita untuk anugerah keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Dan sudah seharusnya kita menghargai anugerah Tuhan, karena untuk mendapatkan anugerah Tuhan ada harga yang harus dibayar, dan itu sangat mahal. Mengapa anugerah keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita begitu mahal? Karena:

  1. Kita di tebus bukan dengan barang yang fana
Ketika kita membaca Surat 1 Petrus dan 2 Petrus kita harus memahami latar belakang surat ini di tulis. 1 dan 2 Petrus ditulis kepada jemaat-jemaat yang ada diperantauan...yang berdiaspora (menyebar) dan mereka sedang berada dalam penderitaan yang hebat.
Tema utama dari surat 1 dan 2 Petrus adalah Pengharapan di tengah penderitaan.

Dalam konteks yang demikian surat ini ditulis...sehingga orang-orang Kristen yang sedang dalam penderitaan dan penganiyaan hebat dapat bertahan dalam iman mereka. Mereka makin diteguhkan bahwa mereka sudah tebus/dibeli oleh Tuhan dan harganya sudah lunas terbayar.

‘kamu telah ditebus’.

Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa dosa memperbudak / memperhamba orang yang melakukan-nya.

Bdk. Yoh 8:34 - “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa’.” (bdk. Mazmur 51:7)

Jelas ini menujukkan betapa ngeri dan kejamnya dosa yang mengikat dan memperhamba setiap orang yang ada dalam belenggunya. Tidak seorangpun dapat melepaskan diri dari kuasa dosa, maka jelaslah kata-kata Tuhan Yesus bahwa setia orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa.

tebus” menunjukkan suatu keadaan bahwa kita pernah terjual, tetapi juga menyatakan bahwa kita sudah terlepas dari status dosa kita, serta memasuki status yang baru, bukan milik dunia ini, melainkan milik Kristus.

Gambarannya adalah seorang yang membeli seorang budak dengan maksud membebaskannya. Ini sama halnya dengan kita ketika hendak menebus sesuatu dari rumah gadai, barangnya dibebaskan melalui pembayaran harga tebusan.

Dalam kitab Hosea, ketika Allah berfirman kepada Hosea untuk mengambil Gomer sebagai isterinya (Hos. 1:2-3). Ini bukanlah suatu hal gampang/mudah bagi Hosea untuk membeli Gomer. Hal ini tentu mempertaruhkan seluruh keberadaan Hosea sebagai nabi Allah, sebagai manusia seutuhnya. Tetapi nabi Hosea taat. Ia membeli Gomer dengan harga yang mahal dan lunas. Setelah Gomer menjadi miliknya, Hosea bisa  saja membunuh isterinya itu jika ia mau. Ia dapat mempermalukannya di depan umum dalam cara apa pun yang dapat ia pilih. Tetapi sebaliknya ia mengenakan pakaiannya kembali pada isterinya, membawanya melewati kerumunan yang tidak dikenal, dan menuntut kasihnya sementara menjanjikan hal yang sama dari dirinya. Inilah cara Allah mengatakannya:

1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis." 2 Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai. 3 Aku berkata kepadanya: "Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau.” (Hosea 3:1-3)

Jika kita memahami kisah Hosea, kita memahami bahwa kita adalah gambaran tentang Gomer, kita adalah budak yang dijual di tempat pelelangan dosa. 
Kita yang diciptakan untuk persekutuan yang akrab dengan Allah, tetapi kita telah mempermalukan diri kita dengan ketidaksetiaan. Pertama kita telah main mata dan kemudian berzinah dengan dunia yang berdosa dan nilai-nilainya. Bahkan dunia telah menawar bagi jiwa kita, menawarkan seks, uang, kemasyhuran, kuasa dan semua hal yang diperjualbelikannya. 
Tetapi Tuhan Yesus, Sang Mempelai Laki-laki dan Kekasih kita yang setia, masuk ke pasar itu untuk membeli kita kembali. Ia menawarkan darah-Nya sendiri. Tidak ada penawaran yang lebih tinggi daripada itu. Dan kita menjadi kepunyaan-Nya. Ia menjubahi kita kembali, bukan dengan kain kotor, tetapi dengan jubah kebenaran-Nya yang baru. Ia berkata kepada kita,”Kamu harus tinggal sebagai milik-Ku...., kamu tidak boleh.....menjadi milik orang lain....; demikian juga Aku bagimu.

cara hidupmu yang sia-sia” yaitu perbuatan dosa yang beraneka ragam (Rm. 1:21; Ef. 4:17). Disebut “sia-sia”, sebab tidak bermakna, dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tetapi bertindak seturut dengan kesukaan diri sendiri.

emas dan perak” -- kedua logam ini sering dipakai dalam dunia ini, namun tidak berfungsi untuk melepaskan kita dari dosa dan penghakiman Allah. Kedua jenis logam ini tidak dapat disandari orang Kristen untuk peroleh warisan surgawi yang kekal itu.

Selain kita ditebus bukan dengan barang yang fana, selanjutnya.......

  1. Kita di tebus dengan darah yang mahal

melainkan dengan darah yang mahal” -- yaitu darah Kristus”
mahal” dalam bahasa asli Timios untuk 1:7 diterjemahkan “kemuliaan dan kehormatan” -- atau darah yang mulia, hormat dan mahal pula.

Sama seperti darah Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat” -- kalimat ini menyatakan pencurahan darah serta kematian Kristus, seperti anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat cela yang dipakai sebagai korban penebusan dosa – melambangkan “Anak Domba Allah” (Yoh. 1:29, bdk. Why. 5:9; 7:9).

Artinya korban tebusan bagi manusia berdosa...haruslah mencakup kriteria Allah yaitu tidak bercacat cela...dan ini hanya dimungkin melalui darah Yesus Kristus yang sudah tercurah di atas kayu salib. Dialah Anak Domba Allah penghapus dosa dunia.

Memang dalam Perjanjian Lama domba Paskah maupun korban harus tak bercela dan tak bercacat (Kel 12:5 Im 3:1,6 Im 22:19-25 Bil 28:3,9,11,19,31b). Kristus sesuai sebagai penggenapan Type ini karena Ia memang suci murni tanpa dosa.

Dalam hal ini, Petrus membandingkan darah Kristus dengan emas, dan perak. Yang mana darah Kristus tak bercacat cela, yang sanggup pula mengakibatkan orang Kristen tak bercacat cela dan bernoda, sedangkan emas dan perak dalam dunia ini senantiasa merupakan kuasa penggoda besar, yang merusak moral manusia.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menebus kita dari dosa kecuali darah dan pengorbanan Yesus.

C. T. Studd,” Kalau Yesus Kristus adalah Tuhan, dan Dia telah mati bagi saya, maka tidak ada pengurbanan yang terlalu besar, yang dapat saya persembahkan kepada-Nya
Ia mahasiswa cerdas dan pemain cricket (sejenis softball) andalan kampusnya, Universitas Cambridge. Ketika D.L. Moody berkhotbah di kampusnya, ia pun bertobat dan kembali mendedikasikan hidupnya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tidak lama kemudian, ia dan enam mahasiswa lainnya bergabung dengan Hudson Taylor untuk melayani ke Cina.
Bagi banyak orang, termasuk sanak-saudara Studd sendiri, keputusan ketujuh mahasiswa itu merupakan gagasan yang terburu-buru dan menyia-nyiakan kecerdasan serta kemampuan mereka.
Mereka berlayar ke Cina tahun 1885. Sesampainya di sana, mereka mengikuti kebiasaan badan misi itu dengan hidup dan berpakaian seperti orang Cina. Mereka juga belajar bahasa dan mengikuti cara makan setempat.
Saat berada di Cina itulah ia mencapai umur 25 tahun dan, sesuai dengan wasiat ayahnya, ia berhak atas warisan yang sangat besar jumlahnya. Setelah menekuni Firman Allah dan banyak berdoa, C.T. merasa terdorong untuk menyerahkan seluruh kekayaannya kepada Kristus!
"Itu bukan suatu kebodohan. Itu suatu kesaksian di hadapan Allah dan manusia bahwa ia mempercayai Firman Allah sebagai hal yang paling pasti di muka bumi ini. Buah seratus kali lipat yang Allah janjikan dalam kehidupan saat ini – belum lagi dalam kehidupan yang akan datang – merupakan kenyataan yang pasti bagi mereka yang mempercayainya dan bertindak berdasarkan firman tersebut,” papar Norman P. Grubb, penulis biografinya.
Sebelum mengetahui jumlah warisannya, C.T. mengirimkan £5000 kepada Moody, £5000 kepada George Müller dan £15,000 lagi untuk menunjang pelayanan-pelayanan lainnya. Beberapa bulan kemudian, ia baru mendapat kabar jumlah uang yang diwarisinya. Ia pun mempersembahkan beberapa ribu poundsterling lagi. Sisa di kantungnya tinggal £3400.
Bagaimana dengan saudara dan saya dalam memasuki masa-masa pra Paskah ini...adakah kita sungguh menghargai anugerah Tuhan dalam hidup kita? Sudakah kita menyatakan syukur kita lewat hidup kita, waktu kita, harta kita,....dll,?
Adakah yang terlalu besar, terlalu mahal yang dapat kita bandingkan dengan pengorbanan Kristus, bagi kita orang-orang berdosa yang telah ditebus, diselamatkan oleh-Nya?
Doa: Tuhan kalau hati kami selama ini sudah menjadi dingin, mohon Tuhan hangatkan dengan Anugerah-Mu, kalau hati kami sudah mulai membantu, mohon Tuhan lembutkan dengan Anugerah-Mu, kalau hati kami kering, mohon Tuhan segarkan dengan Anugerah-Mu, kalau hati kami terluka, amarah, dendam, mohon Tuhan pulihkan dengan Anugerah-Mu, kalau hati kami penuh dosa dan cela, mohon Tuhan murnikan, sucikan dan kuduskan dengan darah-Mu yang suci. Sehingga kami sanggup menjalani hari-hari ke depan yang penuh dengan tantangan, cobaan, godaan dan agar kami dapat menyampahkan dunia, dan terus memandang salib-Mu yang mulia. Amin